Langsung ke konten utama

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
  
A.   Latar Belakang      ................................................................
B.   Rumusan Masalah ................................................................
C.   Tujuan ...................................................................................
BAB II. PEMBAHASAN
A.   Pengertian Agama islam .............................................................
B.   Bagaimana komitmen muslim kepada agamanya ...........................
BAB III. PENUTUP
A.   Kesimpulan ...................................................................
B.    Saran   ..............................................................................                                                                                      
DAFTAR PUSTAKA







KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah atas segala karunia Allah SWT. Atas izin-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Tak lupa pula kami kirimkan shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Beserta keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh ummatnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam berjudul  “PENGERTIAN AGAMA ISLAM”
Dalam makalah ini kami menguraikan mengenai pengertian agama islam,komitmen muslim terhadap agama,berikut dalil-dalilnya.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu kami mengharapkan saran dan kritik konstruktif demi perbaikan makalah di masa mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi harapan berbagai pihak. Amiin.

Pekanbaru , September 2018












BAB I . PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan agama islam sangat penting untuk di pelajari dan di amalkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang mencakup tentang Ma’rifatul Islam dan Marifatul Quran, hal ini sangat penting untuk di pelajari karena di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat berharga yang dapat menjadi panutan kita.

B.   Rumusan Masalah 
Dari latar belakang di atas, penulis membatasi masalah sebagai berikut :
1.     Apa yang dimaksud dengan agama islam ?
2.     Bagaimana komitmen muslim terhadap agamanya ?

  C.Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.     Menjelaskan tentang agama islam
2.     Komitmen muslim terhadap agamanya



BAB II . PEMBAHASAN
AGAMA ISLAM

1.     Pengertian Islam Menurut Bahasa, Istilah, dan Al-Quran.
ISLAM  sering disalahpahami, khususnya dengan diidentikkan dengan Muslim. Islam dan Muslim adalah dua istilah yang berbeda.Islam adalah agama. Muslim adalah pemeluknya. Islam sering diidentikkan dengan perilaku kaum Muslim atau umat Islam. Padahal, sebagaimana perilaku penganut agama lainnya, perilaku seorang Muslim belum tentu mencerminkan ajaran atau syariat Islam. Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT  kepada Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman.Islam (Arab: al-islām, الإسلام, "berserah diri kepada Tuhan")  adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah SWT.
Dalam Al-Quran, Islam disebut juga Agama Allah atau Dienullah :




"Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran [3] : 83).
Dien (agama) sendiri dalam Al-Quran artinya agama (QS 3:83), ketaatan
(QS 16:52), dan ibadah (QS.40:65).
Berikut ini ulasan tentang makna, arti, defisi, atau pengertian Islam menurut bahasa, istilah, dan Al-Quran.
·        Pengertian Islam secara  Harfiyah
Pengertian Islam secara  harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang bermakna dasar “selamat” (Salama). Dari pengertian Islam secara bahasa ini, dapat disimpulkan Islam  adalah agama yang membawa keselamatan hidup di dunia dan di akhirat (alam kehidupan setelah kematian).Islam juga agama yang mengajarkan umatnya atau pemeluknya (kaum Muslim/umat Islam) untuk menebarkan keselamatan dan kedamaian, antara lain tercermin dalam bacaan shalat --sebagai ibadah utama-- yakni ucapan doa keselamatan "Assalamu'alaikum warohmatullah" (                                                                    ) “semoga keselamatan dan kasih sayang Allah dilimpahkan kepadamu” sebagai penutup shalat.
·        Pengertian Islam Menurut Bahasa
Pengertian Islam menurut bahasa, kata Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama. Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini.
الإسلام مصدر من أسلم يسلم إسلاما
Ditinjau dari segi bahasanya, yang dikaitkan dengan asal katanya (etimologis), Islam memiliki beberapa pengertian, sebagai berikut:



1. Islam berasal dari kata ‘salm’ (السَّلْم) yang berarti damai atau kedamaian.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran :



“Dan jika mereka condong kepada perdamaian , maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 8:61).
Kata ‘salm’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan umatnya untuk cinta damai atau senantiasa memperjuangkan perdamaian, bukan peperangan atau konflik dan kekacauan.
"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. 49 : 9).
Sebagai salah satu bukti Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian adalah Allah SWT melalui Al-Quran baru mengizinkan atau memperbolehkan kaum Muslimin berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-musuhnya.
 “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. 22 : 39).
2.     Islam Berasal dari kata ‘aslama’ (أَسْلَمَ)  yang berarti berserah diri atau pasrah.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT.Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya.
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya (aslama wajhahu) kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. 4 : 125)
Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya.
“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 6 : 162)
Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk Allah baik yang ada di bumi maupun di langit, mereka semua memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dengan mengikuti sunnatullah-Nya.
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. 3 : 83)



3. Islam Berasal dari kata istaslama–mustaslimun : penyerahan total kepada Allah SWT.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran:


“Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.” (QS 37 : 26)
Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin kedua). Seorang Muslim atau pemeluk agama Islam diperintahkan untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apa pun yang dimiliki hanya kepada Allah SWT.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”  (QS. 2 : 208).
Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam melaksanakan segala yang diperintahkan dan dalam menjauhi segala yang dilarang-Nya. Inilah yang disebut Takwa menuruf definisi yang populer.
4. Berasal dari kata ‘saliim’ (سَلِيْمٌ) yang berarti bersih dan suci.


“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih"        (QS.26:89).
"(Ingatlah) ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci." (QS. 37: 84)  
Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dan bersih, yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki kebersihan dan kesucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.
 5. Islam Berasal dari ‘salam’ (سَلاَمٌ) yang berarti selamat dan sejahtera.
" Ibrahim berkata: 'Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku'." (QS. 19 : 47).
Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap insan.
Pengertian Islam menurut Al-Quran tersebut sudah cukup mengandung pesan bahwa kaum Muslim hendaknya cinta damai, pasrah kepada ketentuan Allah SWT, bersih dan suci dari perbuatan nista, serta dijamin selamat dunia-akhirat jika melaksanakan risalah Islam. Islam adalah agama cinta damai
Lalu, bagaimana jika faktanya banyak pemeluk Islam (Muslim) yang tidak beperilaku sebagaimana digambarkan dalam pengertian Islam di atas? Mudah saja jawabnya: mereka tidak mengamalkan Islam dengan bailk dan benar, dan perilaku mereka tidak identik dengan Islam, karena Islam dan Muslim adalah da hal yang berbeda.

·        Pengertian Islam Menurut Istilah
Menurut istilah, Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.’
Secara istilah juga, Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan utusan Allah (Rasulullah) terakhir untuk umat manusia, berlaku sepanjang zaman, bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah serta Ijma' Ulama.
1. Islam sebagai Wahyu Ilahi
Wahyu ialah perintah atau kata-kata Allah (كلام الله) yang disampaikan kepada para rasul-Nya. Nabi Muhammad sebagai salah seorang rasul (pesuruh) Allah Ta'ala juga menerima wahyu yang disampaikan melalui perantaraan malaikat Jibril.
Firman Allah :



“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. 53 : 3-4).
Wahyu Allah kini terhimpun semuanya dalam Mushaf Al-Quran, kitab suci Umat Islam, sebagai sumber utama ajaran agama Islam.
2. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW)
          Firman Allah :


  “Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” (QS. 3 : 84)
3.     Islam sebagai Pedoman Hidup.

Firman Allah :


“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini" (QS. 45 : 20).
Islam adalah jalan hidup (way of life). Al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam menjadi bacaan wajib sekaligus panduan dalam menjalani kehidupan.
4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka.
Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. 5 : 49-50)
5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus.
Allah SWT berfirman (QS. 6 : 153).


“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”
Dalam QS Al-Fatihah, umat Islam membaca doa "Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus":
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan, ada empat perkataan ulama tentang makna jalan lurus (shiratal mustaqim):
·        Kitabullah (Al-Quran). Ini merupakan pendapat yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Ali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
·        Agama Islam. Ini merupakan pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Al Hasan, dan Abul ‘Aliyah rahimahumullah.
·        Jalan petunjuk menuju agama Allah. Ini merupakan pendapat Abu Shalih dari sahabat Ibnu ‘Abbas dan juga pendapat Mujahid rahimahumullah.
·        Jalan (menuju) surga. Pendapat ini juga dinukil dari Ibnu ‘Abbas r.a.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mejelaskan : “Shiratal mustaqim adalah jalan yang jelas dan gamblang  yang bisa mengantarkan menuju Allah dan surga-Nya, yaitu dengan mengenal kebenaran serta mengamalkannya” (Taisirul Kariimir Rahman).
6. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat
Islam adalah agama yang membawa pemeluknya kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dengan amal kebaikan (amal shalih) yang dikerjakannya, sesuai dengan syariat Islam, kaum Muslim akan menjalani kehidupan yang baik, tentram, dan di akhirat nanti pun demikian.
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan"  (QS. 16 : 97).

·        Pengertian agama islam menurut para ahli
Pengertian Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek peristilahan. Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim. Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya; di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah ( Islam sebagai agama ) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenal berbagai segi dari kehidupan manusia. Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya.
Berikut ini adalah pengertian definisi agama Islam menurut ahli.
a.     Menurut George Sarton, agama Islam merupakan tatanan agama yang paling tepat sekaligus paling indah.
b.     Menurut Tolstoi, agama Islam merupakan ringkasan agama yang dikumandangkan Muhammad dan menyatakan bahwa Allah itu satu, tiada Tuhan selain Dia. Sehingga tidak dibenarkan menyembah banyak Tuhan.
c.      Menurut Leodourch, agama Islam itu adalah agama kemanusiaan alami, ekonomis dan sekaligus moralis.
d.     Menurut Massignon, agama Islam merupakan agama yang memiliki keistimewaan, bahkan Islam sebagi ide persamaan yang benar dengan partisipasi semua anggota masyarakat.
e.      Menurut Orientalis H. I, agama Islam adalah sebaik-baiknya agama dan ternyata Islam hingga dewasa kini masih tetap merupakan akidah agama yang kukuh, yang memiliki kaidah kemasyarakatan yang merata, dan sekaligus memiliki tatanan budi luhur yang sangat kuat.
f.       Menurut Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at-Tawairjiri, agama Islam adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dengan mengesakan-Nya dan melaksanakan syariat-Nya dengan penuh ketaatan atau melepaskan dari kesyirikan.
g.     Menurut Umar bin Khaththab, agama Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. Agama ini meliputi: Akidah, Syariat, dan Akhlak.
h.     Menurut Abu Said Al-Hasan Al-Bashri, agama Islam ialah kepasrahan hati anda kepada Allah, lalu setiap orang muslim merasa selamat dari gangguan anda

Fungsi Agama
a. Sebagai Pembimbing Dalam Hidup
Pengendali utama kehidupan manusia adalah kepribadiannya yang mencakup segala unsure pengalaman pendidikan dan keyakinan yang didapatnya sejak kecil. Apabila dalam pertumbuhan seseorang terbentuk suatu kepribadian yang harmonis, di mana segala unsur pokoknya terdiri dari pengalaman yang menentramkan jiwa maka dalam menghadapi dorongan baik yang bersifat biologis ataupun rohani dan sosial akan mampu menghadapi dengan tenang.
b. Penolong Dalam Kesukaran
Orang yang kurang yakin akan agamanya (lemah imannya) akan menghadapi cobaan/kesulitan dalam hidup dengan pesimis, bahkan cenderung menyesali hidup dengan berlebihan dan menyalahkan semua orang. Beda halnya dengan orang yang beragama dan teguh imannya, orang yang seperti ini akan menerima setiap cobaan dengan lapang dada. Dengan keyakinan bahwa setiap cobaan yang menimpa dirinya merupakan ujian dari tuhan (Allah) yang harus dihadapi dengan kesabaran karena Allah memberikan cobaan kepada hambanya sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, barang siapa yang mampu menghadapi ujian dengan sabar akan ditingkatkan kualitas manusia itu.

c. Penentram Batin
Jika orang yang tidak percaya akan kebesaran tuhan tak peduli orang itu kaya apalagi miskin pasti akan selalu merasa gelisah. Orang yang kaya takut akan kehilangan harta kekayaannya yang akan habis atau dicuri oleh orang lain, orang yang miskin apalagi, selalu merasa kurang bahkan cenderung tidak mensyukuri hidup.
Lain halnya dengan orang yang beriman, orang kaya yang beriman tebal tidak akan gelisah memikirkan harta kekayaannya. Dalam ajaran Islam harta kekayaan itu merupakan titipan Allah yang didalamnya terdapat hak orang-orang miskin dan anak yatim piatu. Bahkan sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang maha berkehendak, tidak mungkin gelisah. Begitu juga dengan orang yang miskin yang beriman, batinnya akan selalu tentram karena setiap yang terjadi dalam hidupnya merupakan ketetapan Allah dan yang membedakan derajat manusia dimata Allah bukanlah hartanya melainkan keimanan dan ketakwaannya.
d. Pengendali Moral
Setiap manusia yang beragama yang beriman akan menjalankan setiap ajaran agamanya. Terlebih dalam ajaran Islam, akhlak amat sangat diperhatikan dan di junjung tinggi dalam Islam. Pelajaran moral dalam Islam sangatlah tinggi, dalam Islam diajarkan untuk menghormati orang lain, akan tetapi sama sekali tidak diperintah untuk meminta dihormati.
Islam mengatur hubungan orang tua dan anak dengan begitu indah. Dalam Al-Qur’an ada ayat yang berbunyi: “dan jangan kau ucapkan kepada kedua (orang tuamu) uf!!” Tidak ada  ayat yang memerintahkan kepada manusia (orang tua) untuk minta dihormati kepada anak.
Selain itu Islam juga mengatur semua hal yang berkaitan dengan moral, mulai dari berpakaian, berperilaku, bertutur kata hubungan manusia dengan manusia lain (hablum minannas/hubungan sosial). Termasuk di dalamnya harus jujur, jika seorang berkata bohong maka dia akan disiksa oleh api neraka. Ini hanya contoh kecil peraturan Islam yang berkaitan dengan moral. Masih banyak lagi aturan Islam yang berkaitan dengan tatanan perilaku moral yang baik, namun tidak dapat sepenuhnya dituliskan disini.
Agama Islam adalah ajaran yang mencakup akidah/keyakinan dan syariat/hukum. Islam adalah ajaran yang sempurna, baik ditinjau dari sisi aqidah maupun syariat-syariat yang diajarkannya:
1.     Islam memerintahkan untuk menauhidkan Allah ta’ala dan melarang kesyirikan.
2.     Islam memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang dusta.
3.     Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya.
4.     Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat.
5.     Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji.
6.     Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang perbuatan durhaka kepada mereka.
7.     Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan silaturahim.
8.     Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang bersikap buruk kepada mereka.
Secara umum dapat dikatakan bahwasanya Islam memerintahkan semua akhlak yang mulia dan melarang akhlak yang rendah dan hina. Islam memerintahkan segala macam amal salih dan melarang segala amal yang jelek.
2. Komitmen muslim terhadap agama islam
Sebagaimana   telah  diketahui,  bahwa   tujuan   hidup manusia adalah Allah subhanahu wa ta’ala, yang dicapai dengan berusaha selalu mencari keridlaan-Nya melalui perjuangan melaksanakan tugas hidup selaku hamba-Nya. Di dalam  melaksanakan  tugas hidupnya  dengan  baik  -agar nantinya  mendapat  ridla Allah- manusia harus  memilih Islam sebagai jalan  hidup (way of life),  yang akan mengantarkannya ke dalam kedamaian,  keselamatan, dan kebahagiaan  dunia  maupun akhirat.
Pemilihan alternatif  selain  Islam  sebagai  jalan  hidup   akan merugikan  dirinya, membawa kesengsaraan, kesesatan, dan kemurkaan Allah. Tidak  semua  agama itu  benar  sebagaimana  didakwakan sementara  orang,  tetapi   hanya   Islam-lah   agama   yang  benar  dan  dapat diuji  akan  kebenarannya.  Pemilihan agama  selain Islam, hanya akan memberikan  angan-angan kosong karena di akhirat akan mendapat kerugian.
Firman Allah :


Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar  berada  dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan  amal shalih  dan  nasehat  menasehati supaya mentaati  kebenaran  dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS 103 :1-3,  Al ‘Ashr)
Sebagai konsekuensi logis atas keimanan terhadap Islam, maka seorang yang mengaku beragama Islam harus memiliki rasa  terikat  diri (komitmen) kepada  Islam.  Komitmen tersebut menurut Endang Saifuddin Anshari, MA  meliputi: mengimani,  mengilmui,  mengamalkan, menda’wahkan dan bersabar dalam ber-Islam.
·        MENGIMANI ISLAM
Setiap orang yang mengaku beragama Islam atau muslim harus mengimani kesempurnaan dan kemutlakan kebenaran  Islam, sebagai   suatu   ajaran  yang  universal   dan   abadi  (eternal),   yang  mengatur  hubungan  antara   manusia sebagai makhluq dengan Allah sebagai Khaliq (Pencipta), antara  manusia  dengan  manusia  lainnya  dan   antara manusia dengan alam sekitarnya. Setiap   manusia  diberi  kebebasan   untuk   melakukan pemilihan dalam hidupnya.
Allah telah memberi kebebasan kepada  manusia  untuk mengambil salah satu dari dua          alternatif,  yaitu  iman atau  kafir. Namun   demikian  bagi  seorang  yang  telah  beriman, diharapkan supaya selalu tetap beriman dan tidak  ragu-ragu  agar terhindar dari kesesatan.
Firman Allah ;


Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.  (QS 3:102, Ali ‘Imran)
Komitmen muslim dalam mengimani  Islam  seharusnya membawa   kepada   kepasrahan   diri   kepada   Allah, sebagaimana makna Islam itu sendiri. Abul A’la Maududi berpendapat, bahwa   Islam  bermakna  kepatuhan   dan   kerajinan menjalankan  kewajiban  kepada  Allah.  Islam  bermakna memasrahkan diri kepada Allah. Islam bermakna mengorbankan  kebebasan  dan kemerdekaan  diri  sendiri demi  Allah.  Islam bermakna menyerahkan  diri  di bawah kekuasaan kerajaan dan kedaulatan Allah. Seseorang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah adalah seorang muslim, dan seorang yang mempercayakan urusan-urusannya  kepada dirinya sendiri atau kepada  siapapun selain  Allah bukanlah  seorang  muslim.  Mempercayakan segala  urusan kepada Allah berarti menerima  bimbingan Allah   yang  diberikan  melalui Kitab Suci-Nya dan bimbingan  yang diberikan oleh  Rasul-Nya.  Selanjutnya hanya Al Quraan  dan Sunnah Rasul  sajalah  yang  harus diikuti  dalam  setiap masalah kehidupan.
Sekali lagi yang dapat dinamakan seorang muslim hanyalah orang yang rela   mengesampingkan   pemikirannya   sendiri,   adat kebiasaan masyarakat dan dunia serta nasehat-nasehat dari orang lain, selain nasehat dari Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim adalah orang yang  dalam  setiap persoalan  selalu berkonsultasi dengan Kitab Allah  dan kata-kata Rasul-Nya, untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak boleh ia lakukan.  Seorang Muslim  ialah orang yang mau menerima  tanpa  ragu-ragu sedikitpun petunjuk apa        saja yang didapatnya dari Allah dan Rasul-Nya,dan menolak apapun yang dilihatnya bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, karena  ia  telah  mempercayakan  dirinya   sepenuhnya kepada   Allah.   Dan   tindakan   mempercayakan diri sepenuhnya   kepada Allah  inilah yang  menjadikan seseorang  dapat  disebut seorang  muslim.
Sebaliknya, seseorang tidaklah dapat dinamakan seorang muslim  bila ia  tidak bergantung pada Al Quraan dan  Sunnah  Rasul, tetapi melaksanakan apa yang dikatakan oleh pikirannya sendiri, atau mengikuti apa yang diperbuat oleh nenek moyangnya, atau menyesuaikan diri    dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya dan oleh orang-orang  di dunia pada umumnya, tanpa mencari petunjuk dalam Al Quraan dan Sunnah tentang bagaimana  menangani masalah  urusan-urusannya, atau bila ia tahu  apa  yang diajarkan oleh Al Quraan dan Sunnah tetapi ia keberatan untuk  menurutinya  dengan mengatakan: “Ah,  ini  tidak sesuai dengan akal pikiran saya, karena itu saya  tidak bisa menerimanya”, atau “Karena ajaran Al Quraan  dan Sunnah ini bertentangan dengan ajaran nenek moyang saya, maka  saya  tidak akan mengikutinya”,  atau  “Karena masyarakat  dan  orang-orang  di  seluruh  dunia  tidak menyetujui ajaran Al Quraan dan Sunnah, maka saya juga tidak akan  menyetujuinya”. Orang  yang  berpandangan seperti  ini tidak dapat dinamakan seorang muslim,  dan bila ia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim, ia hanyalah seorang pendusta.
Demikianlah,  komitmen  muslim didalam  mengimani  Islam seharusnya  memberi  bekasan yang paling  dalam  kepada seorang manusia yang menganggap dirinya muslim. Pendapat Abul A’la  Maududi di atas tentunya sangat patut kita renungkan. Karena keimanan  yang  benar  adalah keimanan  yang konsekuen di jalan lurus  (shiratal mustaqim).
·        MENGILMUI ISLAM
Setiap muslim  harus berusaha memperdalam pengetahuannya tentang ajaran agama Islam,  sesuai  dengan kemampuannya,  dan dilakukan sepanjang  hidupnya  (long life  education). Mengilmui  Islam adalah  merupakan  suatu kewajiban dalam  rangka melaksanakan tugas penghambaan kepada Allah dengan cara  yang benar, sesuai tuntunan  Allah  dan Rasul-Nya. Orang yang beriman dan memiliki pengetahuan adalah manusia yang memiliki nilai lebih, karena itu mereka layak memperoleh derajat di sisi Tuhan-nya.
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 58:11, Al Mujaadilah)

    Al Quraan dan As Sunnah adalah sumber syari’at Islam oleh karena itu keharusan bagi setiap muslim adalah berusaha memahami keduanya, agar tidak tersesat dari jalan yang lurus.
Al  Quraan  adalah  wahyu  Allah  yang  diturunkan untuk menjadi  petunjuk  bagi  umat manusia.  Sudah  barang tentu bagi seorang muslim harus ada keterikatan  dengan Al  Quraan dan berusaha mempelajari bukan mengacuhkannya. Al Quraan telah dimudahkan  untuk dipelajari dan  mempergunakannya  sebagai  petunjuk dalam hidup ini.
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quraan  untuk pelajaran,  maka  adakah  orang  yang   mengambil pelajaran?  (QS 54:17,22,32,40, Al Qamar).
Disamping Al  Quraan, sumber ajaran Islam  yang  lain adalah  Sunnah Rasul yang dikenal dengan  sebutan  Al Hadits, yaitu ucapan dan tindakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mapupun taqrir beliau. Al Hadits telah dicatat dan dikodifikasikan oleh para ulama dalam kitab-kitab kumpulan hadits, yang terkenal di antaranya adalah: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i, Sunan Ibnu Majah dan lain sebagainya. Di dalam kumpulan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut akan kita dapatkan suri tauladan beliau dalam mengimplementasikan Al Quraan.
Sesungguhnya  telah ada pada (diri)  Rasulullah  itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang  yang mengharap  (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari  kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  (QS 33:21, Al Ahzab).
Selama umat Islam  berpegangA  pada Al Quraan dan Al Hadits mereka  tidak  akan tersesat.  Demikian  pula  sebaliknya,  meninggalkan keduanya menyebabkan  mereka tersesat  dari  jalan yang lurus  dan  terombang-ambing  dalam   badai  kehidupan. Karena itu, seharusnya  umat Islam berusaha  untuk mengilmui  Islam dengan mempelajari AlQuraan danAl Hadits sesuai dengan  kemampuannya. 
Tidak  hanya  sekedar   mengikuti fatwa-fatwa  para ulama dan pendapat-pendapat para intelektual  tanpa mengetahui dasarnya, apalagi taqlid buta.Mengkaji  Al Quraan dan Al Hadits  merupakan  kewajiban bagi  setiap  muslim. Dimulai  dari cara membacanya kemudian diikuti dengan  menelaah  dan  memahami  isi kandungannya, bahkan  bila memungkinkan sampai dapat  mengajarkannya kepada orang lain. Memang,  tidak setiap muslim harus menjadi ulama   yang ahli  Al  Quraan dan Al Hadits maupun  ilmu-ilmu  agama yang  berkaitan  dengan  keduanya.  Namun,  yang   perlu ditekankan adalah adanya kesadaraan diri untuk  mengilmui Islam dari sumbernya yang asli.

Sebagai seorang muslim disamping menuntut  ilmu  agama sebagai  tugas  utama  dalam  menuntut   ilmu,   juga dipersilahkan  untuk  menuntut ilmu yang  lain  apabila ingin  mencari  keutamaan sesuai dengan  kemampuan  dan kecenderungan-kecenderungan  yang dimiliki, baik  ilmu-ilmu kealaman, sosial maupun humaniora.
·        MENGAMALKAN ISLAM
Setiap  muslim seharusnya memanfaatkan  keimanan  dan pemahamannya tentang  Islam dalam   aktivitas  amal  shalih  sesuai dengan kemampuannya. Perilaku  kesehariannya akan  diwarnai oleh keyakinannya terhadap  Islam.  Iman bukan saja membekas di dalam hati tetapi juga terungkap dalam kehidupannya. Pengetahuannya tentang Islam  tidak berhenti  sebagai  islamologi belaka sebagaimana para orientalis,  namun dinyatakan dalam  kehidupan  sehari-hari. Ilmu yang  dimiliki  menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat pada umumnya.
Dan  katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka  Allah  dan Rasul-Nya   serta   orang-orang  mu’min   akan  melihat pekerjaanmu  itu,  dan kamu  akan  dikembalikan  kepada  (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu  diberitakan-Nya kepada kamu apa yang  telah  kamu kerjakan.    (QS 9:105, At Taubah).
Orang  yang  mengerjakan  amal  shalih  dalam   keadaan beriman  akan mendapat kehidupan yang baik  dan  pahala yang lebih baik, sebagaimana dalam firman-Nya:

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik  laki-laki  maupun  perempuan  dalam  keadaan  beriman,  maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik  dan sesunggguhnya akan Kami beri  balasan  kepada mereka  dengan  pahala yang lebih baik  dari  apa  yang telah mereka kerjakan(QS 16:97, An Nahl).
·        MENDA’WAHKAN ISLAM
Islam  adalah  agama bagi seluruh umat  manusia,  tidak hanya  untuk ras atau golongan tertentu.  Islam  adalah agama universal. Wajar apabila seorang muslim  memiliki rasa   terikat  diri  untuk  menda’wahkan   Islam   dan menyebarkan agama ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Sudah  seharusnya  bagi  seorang   muslim   untuk menda’wahkan  Islam,  sesuai dengan  kemampuannya, kepada orang  yang  sudah beragama Islam maupun yang belum memeluk Islam (non muslim).




Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (QS 41:33, Al Fushshilat)
Menda’wahkan Islam adalah merupakan komitmen muslim yang memiliki nilai  kemanusiaan tinggi. Mengajak kepada  aqidah  tauhid, membimbing ke  jalan  yang lurus dan membawa manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Di dalam melaksanakan misi  da’wah, meskipun dapat dilaksanakan  sendiri-sendiri  oleh setiap individu muslim adalah merupakan suatu kebaikan -terlebih dalam dunia modern ini- untuk  melaksanakannya secara  kolektif dan terorganisir dengan memanfaatkan  segenap potensi  yang dimiliki.  Da’wah Islam apabila  dilakukan  secara  kolektif dan profesional, insya  Allah,  akan  dapat memberikan  hasil lebih  efisien,  efektif,  dan memuaskan.



Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru  kepada kebaikan, menyuruh kepada  yang  ma’ruf dan  mencegah dari yang mungkar; merekalah  orang-orang yang beruntung.    (QS 3:104, Ali Imran).
Ayat tersebut menunjukkan, bahwa seorang mukmin yang memegang  teguh  komitmennya dalam  menda’wahkan  Islam adalah merupakan orang-orang yang beruntung, yang memiliki harapan akan  janji Allah untuk mendapatkan balasan yang baik. Punya  nilai tersendiri tentunya, apabila seorang muslim setelah dia mengimani, mengilmui, dan mengamalkan Islam, kemudian dia menda’wahkan Islam sesuai dengan kesanggupannya dengan terlibat dalam aktivitas da’wah islamiyah
·        SHABAR DALAM BERISLAM
Setiap muslim harus bersabar di dalam mengikuti  kebenaran. Sabar berarti  berusaha  untuk  mengatasi  permasalahan  yang dihadapi  dengan tabah lahir dan batin,  serta  diikuti dengan sikap tawakkal kepada Allah Yang Maha Kuasa. Sabar bukan berarti sekedar ‘nrimo’ atau pasrah  dalam menerima  masalah, namun lebih dari itu  juga  memiliki makna  akan adanya usaha (ikhtiyar). Jadi sabar  selain  memiliki pengertian  kepasrahan  (tawakkal)  kepada  Allah,  juga mengandung  makna berusaha untuk mengatasi  permasalahan yang  dihadapi.  Karena itu, tidaklah  mengherankan  ada orang  yang  berpendapat  bahwa sabar  itu  tidak  ada batasnya, mengingat firman Allah yang artinya ;
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu  dan kuatkanlah  kesabaranmu  dan  tetaplah  bersiap   siaga  (diperbatasan  negerimu) dan bertakwalah kepada  Allah, supaya kamu beruntung.  (QS 3:200, Ali ‘Imran).
Tiap-tiap  yang berjiwa akan merasakan mati  dan  Allah akan  menguji  setiap manusia dengan  fitnah,  termasuk juga pengakuan atas keimanan mereka.
Apakah  manusia itu mengira bahwa  mereka  dibiarkan saja  mengatakan: “Kami telah beriman”,  sedang  mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang  yang  sebelum  mereka,  maka  sesungguhnya Allah    mengetahui   orang-orang   yang   benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS 29:2-3, Al Ankabuut).
Sudah seharusnya, apabila seorang muslim dalam rangka untuk  tetap istiqamah dalam memeluk Islam menjadikan sabar sebagai bagian  dari  komitmennya,  dan  menjadikannya   sebagai penolong.



BAB III. PENUTUP
A.   KESIMPULAN
·        Pengertian agama islam terbagi secara bahasa,istilah dan menurut pendapat para ahli
·        Komitmen umat islam terhadap agamanya meliputi: mengimani, mengilmui, mengamalkan, menda’wahkan dan bersabar dalam
berislam

B.   SARAN
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA

Sumber / Rujukan:
Al-Quran Tafsir Jalalain & Tafsir Ibnu Katsir
Shahih Bukhari & Shahih Muslim
Kuliah Al-Islam, KH Endang S. Anshari, Pustaka Bandung, 1978.
Dienul Islam, Drs. Nasruddin Razak, Al-Ma’arif Bandung, 1989
Islam in Focus, Hammudah Abdalati, American Trust Publications Indianapolis-Indiana, 1975
[Sumber: Buletin Da’wah Hidayah-Edisi 277 / 2 Selo 1432 H]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH LANDASAN HISTORIS

MAKALAH   LANDASAN PENDIDIKAN “ LANDASAN HISTORIS”    DISUSUN OLEH : ENDA ADIYA NINGSIH TASYA KAMILA FITRI YUNITA ARDIKA UNIVERSITAS ISLAM RIAU    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN    PRODI BAHASA INGGRIS            2018 KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah atas segala karunia Allah SWT. Atas izin-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Landasan Pendidikan berjudul   “LANDASAN HISTORIS” Dalam makalah ini kami menguraikan mengenai landasan pendidikan historis tentang pendidikan pancasila. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu kami mengharapkan saran dan kritik konstruktif demi perbaikan makalah di masa mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi harapan berbagai pihak. Amiin. Pekanbar...

FIGHTING!!!

Sempet mikir ngapain sih nge blog? Gak penting! 😕 Sempet ngerasa kecewa mana nih di blog saya kok gak ada folowers nya? 😥 Aduuuh... Pusing ternyata yaaa mikirin begituan... Tapi skarang aku akan bangkit *darikubur* Bangkit demi blog yang pernah aku tinggalkan Aku akan berjuang!!! Fighting! Fighting! *ngomong opo?* 😪

JALAN SANTAI

Minggu pagi 01 mei gak biasanya saya bangun pagi haha... *cieee...yang biasa bangun siang* Biasanya hari minggu saya lemes.tapi gak untuk hari minggu ini.Karna hari minggu ini 01 mei brarti ini hari buruh.kalo hari buruh itu,merupakan hari besar alias tanggal merah. jadiiiii.... saya libuuuuuuur!!! Asiiiik!!! :D loh kan hari minggu emang libuuuur??? Mungkin kalian bertanya seperti itu.Tapi gak untuk saya.karna saya liburnya hari senin :D *kebalik sama yang lain* Makanya ada libur dihari minggu itu adalah anugrah buat saya. Minggu pagi udah siapsiap ada temen yang mau ngejemput kerumah.sebut saja KR.janjinya siih jam enam tapi mana niiih? Kok gak datengdateng? Aaah...mungkin dia masih beresberes rumah *dalemhati*    Yaudah sambil nungguin temen saya ini,saya buka fb dulu.gak lama kemudian,ada bbm masuk dari temen saya.sebut saja “KA”   KA bilang ”sar,coba miscall KR dia mau jemput tuuuuh...”     Pas saya miscall KR eeeeh...ternyata dia u...