KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah atas segala
karunia Allah SWT. Atas izin-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat
waktu.
Penulisan makalah ini bertujuan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Landasan Pendidikan berjudul “LANDASAN SOSIAL BUDAYA”
Dalam makalah ini kami menguraikan
mengenai landasan pendidikan historis tentang pendidikan pancasila.
Kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna. Karena itu kami mengharapkan saran dan kritik
konstruktif demi perbaikan makalah di masa mendatang. Harapan kami semoga
makalah ini bermanfaat dan memenuhi harapan berbagai pihak. Amiin.
Pekanbaru , September 2018
KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang..................................................................................... 4
B. Rumusan
Masalah................................................................................. 4
C. Tujuan
Penulisan................................................................................... 4
BAB II. PEMBAHASAN
1. Hakikat
Pendidikan...............................................................................
5
2. Landasan Sosial Budaya
Pendidikan.................................................... 6
3. Landasan Sosial dalam
Pendidikan...................................................... 7
4. Landasan Kebudayaan
dalam Pendidikan........................................... 8
5. Sosial Budaya pada
Pendidikan Indonesia.......................................... 8
6. Pengaruh Sosial Budaya
terhadap Pendidikan .................................... 8
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................ 8
B. Saran...................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................
10
BAB
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Setiap kegiatan manusia hampir tidak pernah lepas
dari unsur sosial budaya. Sosial mengacu kepada hubungan antarindividu,
antarmasyarakat, dan individu dengan masyarakat. Aspek sosial ini merupakan
aspek individu secara alami, artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan.
Budaya mengacu tentang apa yang dikerjakan dan cara mengerjakannya serta bentuk
yang diinginkan. Sama halnya dengan aspek sosial, aspek budaya sangat berperan
dalam proses pendidikan. Malah dapat dikatakan tidak ada pendidikan yang tidak
dimasuki unsur budaya. Materi yang dipelajari, kegiatan-kegiatan serta
bentuk-bentuk pendidikan merupakan unsur budaya pendidikan. Materi yang
dipelajari anak-anak adalah budaya, cara belajar mereka adalah budaya, begitu
pula kegiatan-kegiatan mereka juga budaya. Dengan demikian sosial budaya tidak
pernah lepas dari proses pendidikan itu sendiri (Pidarta Made, 1997:144-145).
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka dapat dirumuskan masalah
yaitu, Bagaimana landasan sosial budaya dalam pendidikan?
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan dalam penyusunan makalah ini guna untuk mengetahui tentang
landasan sosial budaya pendidikan.
BAB
II. PEMBAHASAN
1. Hakikat
Pendidikan
Pendidikan
salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, kita
mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik agar mereka mampu
menyerap, menilai dan mengembangkan secara mandiri ilmu yang dipelajarinya.
Secara teroritis dan fisiologis tujuan pendidikan adalah membentuk pribadi anak
menjadi seorang dewasa yang berdiri sendiri dan tidak tergantung pada orang
Pendidikan
pada hakikatnya adalah kegiatan sadar dan disengaja secara penuh tanggung jawab
yang dilakukan orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya
agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan yang dilakukan
secara bertahap berkesinambungan di semua lingkungan yang saling mengisi
(rumah, sekolah, masyarakat
2. Landasan Sosial Budaya Pendidikan
2.1 Landasan
Sosial dalam Pendidikan
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok dan stuktur
sosialnya, selain mempelajari cara manusia berhubungan satu dengan yang
lain dalam kelompoknya serta susunan dan keterkaitan unit-unit masyarakat atau
unit sosial dalam suatu wilayah(Pidarta Made, 1997:145).
Sosiologi pendidikan membahas
sosiologi yang terdapat pada pendidikan.Wuradji (1998) menulis
bahwa sosiologi pendidikan meliputi: (1) interaksi guru siswa, (2) dinamika
kelompok dikelas dan di oerganisasi intra sekolah, (3) struktur dan fungsi sitem
pendidikan, dan (4) sistem-sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap
pendidikan(Pidarta Made, 1997:146).
Dapat pula dikatakan
ilmu sosiologi pendidikan ini merupakan analisa ilmiah terhadap
proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem
pendidikan. Pembentukan karakter berdasarkan interaksi sosial melalui
empat bentuk :
1. Imitasi
(peniruan)
Imitasi
bisa bersifat positif dan bisa bersifat negatif. Missal anak meniru orangtuanya
atau gurunya berpakaian rapi, maka anak ini sudah mensosialisasi diri secara
positif baik pada ortu maupun gurunya. Sebaliknya jika anak meniru orang lain
minum minuman keras, maka ia melakukan sosialisasi negatif, ia masuk ke
kelompok orang yang minum minuman keras.
2. Sugesti
(meniru melalui himbauan atau paksaan)
Sugesti
akan terjadi kalau seoang anak menerima atau tertarik pada pandangan atau sikap
orang lain yang berwibawa atau berwenang atau mayoritas. Misal di sekolah yang
berwibawa guru, berwenang kepala sekolah, dan mayoritas pendapat sebagian besar
temannya. Sugesti ini memberi jalan bagi anak untuk mesosialisasi dirinya.
Namun kalau anak terlalu sering mensosialisasi lewat sugesti dapat membuat daya
pikir yang rasional terhambat.
3. Identifikasi
(meniru berdasarkan hal-hal kecocokan dalam diri subyek)
Kata
identifikasi berasal dari kata identik yang artinya sama. Anak bisa bisa saja
mengidentifikasi gurunya dalam melompat tinggi sebab guru itu juara dalam
lompat tinggi. Atau anak lain akan mengidentifikasi guru wanita yang cantik.
Anak ini ingin secantik gurunya, paling sedikit dalam caranya berdandan.
4. Simpati
(meniru berdasarkan kesenangan)
Simpati
adalah factor terakhir yang membuat anak mengadakan proses sosial. Simpati akan
terjadi saat seseorang merasa tertarik kepada orang lain. Factor perasaan
memegang peranan penting dalam simpati(Pidarta Made,1997 :147-148).
2.2 Landasan
Kebudayaan dalam Pendidikan
Pendidikan
adalah bagian dari kebudayaan. Pendidikan dan kebudayaan mempunyai pengaruh
timbal balik. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan
bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. Suatu budaya
sesungguhnya merupakan bahan masukan atau pertimbangan bagi anak dalam
mengembangkan dirinya. Ada kalanya bagian budaya akan dipakai terus, ataupun
akan dibuang dan diganti yang baru. Hal ini bergantung pada pembinaan pendidik,
pengaruh lingkungan, dan hasil penilaian anak itu sendiri(Pidarta Made,1997
:161-162).
Pengertian kebudayaan menurut
beberapa para ahli:
1. Menurut Taylor,
kebudayaan adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, seni, hukum, moral, adat, dan kemampuan serta kebiasaan yang
diperoleh orang sebagai masyarakat.
2. Menurut Hasan,
kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat berisi
aksi terhadap oleh kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kepandaian.
3. Menurut Kneller,
kebudayaan adalah cara hidup yang telah dikembangkan oleh anggota masyarakat.
Berdasarkan
dari pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah
keseluruhan dari cara hidup manusia dalam hidup bermasyarakat yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan, seni, hokum, moral, adat istiadat, kesenian, serta
kebiasaan yang di peroleh orang sebagai masyarakat.
Menurut Imran
Manan(1989) menunjukkan lima komponen kebudayaan, yaitu: (1) Gagasan,
(2) Ideology, (3) Norma, (4) Tehnologi, (5) Benda, agar menjadi lengkap, perlu
ditambah beberapa komponen lagi yaitu: (1) Kesenian, (2) Ilmu, Dan (3)
Kepandaian.
Kebudayaan dapat dikelompokkan menjadi
3 macam, yaitu:
1. kebudayan
umum, misal kebudayaan Indonesia
2. kebudayan
daerah, misal kebudayaan jawa, bali, sunda, batak dan sebagainya
3. kebudayaan
popular, suatu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek daripada
kedua macam kebudayan terdahulu. Contoh: lagu popular, model film musiman, mode
pakaian, dan sebagainya.
Ahli lintas budaya, Richard
Brislin (1993) menjelaskan sejumlah karakteristik budaya:
1. Budaya di
bentuk dari konsep ideal, nilai, dan asumsi tentang kehidupan yang menuntun
perilaku orang
2. Budaya
terdiri dari aspek-aspek lingkungan yang dibuat orang
3. Budaya
diteruskan dari generasi ke generasi
4. Pengaruh
budaya paling terlihat dalam benturan yang bertujuan baik antara orang-orang dari
latar belakang budaya yang berbeda
5. Walaupun
ada kompromi, nilai-nilai budaya masih bertahan
6. Ketika
nilai budayanya dilanggar, orang bereaksi secara emosional
7. Bukan
sesuatu orang yang aneh bagi seseorang untuk menerima nilai budaya (Santrock.John
W, 2007:277).
Kerber dan
Smith (Imran Manan,1989) menyebutkan
ada 6 fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia, yaitu:
1. Penerus
keturunan dan pengasuh anak.
2. Pengembangan
kehidupan ekonomi
3. Transmisi
budaya
4. Meningkatkan
iman dan taqwa kepada Tuhan Maha Esa
5. Pengendalian
sosial dan,
6. Rekreasi
2.3 Sosial
Budaya pada Pendidikan Indonesia
Budaya
pemikiran sebagian masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya
pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan. Misal dalam kasus pendidikan
anak usia dini sendiri, bahwa dahulu masih banyak masyarakat yang belum
mengerti dan paham akan betapa pentingnya PAUD bagi anak usia dini sebagai
bekal mereka untuk jenjang memasuki pendidikan SD atau pendidikan formal
setara. Tapi dengan adanya pengarahan dari pemerintah kesadaran akan
pentingnya PAUD tahun-tahun belakangan ini mendapatkan perhatian yang
cukup menggembirakan dari berbagai kalangan masyarakat, pemerintah, pihak
swasta, orang tua, akademisi, praktisi pendidik, agamawan dan
lain-lain. Wujud kepedulian itu dimanifestasikan dengan terbentuknya
berbagai lembaga pendidikan anak usia dini yang didirikan oleh masyarakat,
namun pembangunan pada sektor pendidikan anak usia dini ini tidak lepas dari
kendala yang di temui dilapangan sehingga perkembangan pendidkan anak usia dini
di indonesia belum dapat dikatakan telah optimal, kendala-kendala tersebut
berkaitan dengan kemampuan pemerintah dan masyarakat, pengelola dan mutu
pendidikan anak usia dini. Masalah-masalah yang di hadapi
adalah :
1. Belum terpenuhinya
kebutuhan masyarakat akan pendidikan anak usia dini
2. Kurang kualitas dan
kuantitas guru/pamong pendidikan anak usia dini
3. Kurang mutu pendidikan
anak usia dini
4. Kurangnya animo
masyarakat/kesadaran orang tua tentang urgensi pendidikan anak usia dini
5. Kebijakan pemerintah
tentang pendidikan anak usia dini yang belum memadai.
Upaya
yang telah dilakukan pemerintah melalui Depdiknas sejauh ini adalah mendirikan
pusat-pusat pendidikan anak usia dini di daerah-daerah, termasuk di daerah
tertinggal namun keberadaan pusat-pusat pendidikan anak usia dini ini masih
sangat minim dibandingkan dengan tingkat kebutuhan masyarakat
2.4 Pengaruh
Sosial Budaya terhadap Pendidikan
Setelah
membahas tentang sosiologi, kebudayaan, masyarakat, serta kondisi masyarakat
Indonesia dikaitkan dengan pendidikan, maka ditemukan pengaruh sosial budaya
terhadap pendidikan pendidikan, yaitu:
1. Keberadaan sekolah tidak
dapat dipisahkan dengan masyarakat sekitarnya, keduanya saling menunjang.
2. Perlu dibentuk badan
kerjasama antara sekolah dengan tokoh masyarakat, termasuk wakil orang tua
anak, untuk memajukan pendidikan
3. Proses sosialisasi anak
perlu ditingkatkan
4. Dinamika kelompok dimanfaatkan
untuk belajar
5. Kebudayaan menyangkut
seluruh cara hidup manusia yang diciptakan manusia ikut mempengaruhi pendidikan
atau perkembangan anak
6. Akibat kebudayaan masa kini,
ada kemungkinan pergeseran paradigma pendidikan, yaitu dari sekolah ke masyarakat
luas dengan berbagai pengalaman yang luas.
7. Untuk itu kebudayaan perlu
ditertibkan, dengan cara:
a. Tayangan
televisi, terutama TV swasta
b. Memberantas
kebudayaan yang merusak remaja seperti minuman keras, narkotika, mengurangi dan mengawasi tindakan klub
malam, dan menangkal perkelahian.
8. Akreditasi ditingkatkan
untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan. Dengan cara ini sekolah keejuruan
akan lebih diminati.
9. Materi pelajaran banyak
dikaitkan dengan keadaan dan masalah masyarakat setempat
10. Metode belajar
ditekankan pada kegiatan anak baik individual maupun kelompok.
BAB III. PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sosial
budaya sangat berperan dalam proses pendidikan oleh karena itu kita sebagai
anggota masyarakat perlu memberi dukungan yang positif agar pendidikan menjadi
agen pembangunan di masyarakat.
B. SARAN
Agar
hidup bermasyarakat menjunjung tinggi nilai-nilai sosial budaya maka sudah
seharusnya kita sebagai pemerintah/sekolah,orang tua siswa, dan masyarakat
secara bersama-sama bertanggung jawab atas lancarnya pelaksanaan pendidikan
dari segi sosial budaya.
DAFTAR
PUSTAKA
Santrock, John W. 1996. Perkembangan
Anak Edisi Kesebelas Jilid 2. Jakarta:Erlangga.
Pidarta, Made. 1997. Landasan
Kependidikan Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sumarsono dkk. 1986. Pendidikan
di Indonesia dari Jaman ke Jaman Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Balai Pustaka.
Salim, Agus. 2002. Perubahan
Sosial Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.
Komentar
Posting Komentar